<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PasirPantai.com &#187; Sumatera</title>
	<atom:link href="http://www.pasirpantai.com/category/sumatera/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pasirpantai.com</link>
	<description>Tempat Berbagi Informasi Pantai di Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Jan 2010 04:48:17 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ke Belitong Tak Lengkap Tanpa Kopi</title>
		<link>http://www.pasirpantai.com/sumatera/belitong/ke-belitong-tak-lengkap-tanpa-kopi/</link>
		<comments>http://www.pasirpantai.com/sumatera/belitong/ke-belitong-tak-lengkap-tanpa-kopi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 15:52:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PasirPantai.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[belitung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[pasir]]></category>
		<category><![CDATA[pulau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasirpantai.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang mengatakan, Anda tak sah disebut pernah mengunjungi Pulau Belitung jika belum mencicipi secangkir kopi di sana. Minum kopi adalah bagian dari kebudayaan masyarakat Belitung. Tak heran jika warung kopi banyak bertebaran di pulau itu.
Belitung, pulau kecil penghasil timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara administratif dibagi menjadi dua, yaitu Belitung dengan ibu kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/belitong-kopi-akiong.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-85" title="belitong kopi akiong" src="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/belitong-kopi-akiong.jpg" alt="belitong kopi akiong" width="298" height="225" /></a>Banyak orang mengatakan, Anda tak sah disebut pernah mengunjungi Pulau Belitung jika belum mencicipi secangkir kopi di sana. Minum kopi adalah bagian dari kebudayaan masyarakat Belitung. Tak heran jika warung kopi banyak bertebaran di pulau itu.</p>
<p>Belitung, pulau kecil penghasil timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara administratif dibagi menjadi dua, yaitu Belitung dengan ibu kota Tanjung Pandan dan Belitung Timur dengan ibu kota Manggar.</p>
<p>Begitu lekatnya budaya minum kopi sampai-sampai Kota Manggar menjadikan warung kopi sebagai ikon baru industri pariwisata. Hari ini, Rabu (19/8), kota itu menggelar acara massal minum kopi susu sekaligus mencanangkan Manggar sebagai “Kota 1001 Warung Kopi”</p>
<p>Di kota Manggar, puluhan warung kopi bisa dijumpai berjajar di sepanjang ruas jalan di kawasan pusat kota atau Pasar Manggar. Meja dan bangku tempat warga berkumpul minum kopi berjejer memenuhi pinggir jalan. Tinggal memilih warung kopi mana yang Anda suka.</p>
<p>Kedai Kopi Ake</p>
<p>Begitu pula di Tanjung Pandan, warung kopi atau kedai kopi amat mudah dijumpai. Konon kata orang, Kedai Kopi Ake di Pasar Tanjung Pandan amatlah kesohor. Ke sanalah saya mencicipi secangkir kopi saat mengunjungi Tanjung Pandang beberapa waktu lalu.</p>
<p>Jangan bayangkan kedai kopi ini berupa bangunan berdesain keren ala kafe-kafe di Jakarta. Kedai kopi ini terletak di tengah bangunan ruko berdinding kusam yang sebagian catnya mengelupas. Di tengah ruko itu ada sepetak pelataran. Di situlah kedai kopi ini berdiri selama puluhan tahun.</p>
<p>Ada banyak gelas di depan warung itu. Bangunannya jauh dari bagus. Beberapa bagian dinding warung itu gompal. Sementara atapnya dari seng yang sebagian sudah berkarat berwarna coklat tua kehitaman. Di depan warung itu ada meja-meja kecil. Sebagian meja kayu sebagian lagi meja bundar dari semen. Jika ingin duduk di dalam juga ada meja panjang yang menempel di dinding.</p>
<p>Bukan sekadar minum kopi</p>
<p><a href="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/belitongkopi.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-86" title="belitongkopi" src="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/belitongkopi.jpg" alt="belitongkopi" width="298" height="225" /></a>Di Belitung, seperti halnya kebudayaan pesisir di Sumatera, orang minum kopi bukan sekadar menikmati kopinya. Jauh lebih penting dari rasa secangkir kopi adalah interaksi sosial dalam momen minum kopi itu. Maka minum kopi di kedai kopi akan kehilangan makna kalau kita menikmatinya sendirian. Berbeda dengan kedai kopi ala Starbucks di Jakarta di mana orang datang sendiri lalu membuka laptop.</p>
<p>Dalam tradisi Melayu pesisir, minum kopi adalah momen berbagi cerita dan informasi. Juga momen untuk diskusi. Tak heran kalau menghabiskan secangkir kopi bisa mamakan waktu berjam-jam.</p>
<p>“Kalau Anda mau tahu ada apa di Belitung hari ini, tidak perlu membeli koran. Datang saja ke kedai kopi. Semua informasi akan Anda dapatkan di sana,”jelas Kusumah, pemandu perjalanan kami dari agen perjalanan setempat.</p>
<p>Kawasan warung kopi Ake dikenal dengan sebutan Kafe Senang. Entah dari mana asal-usul itu. Dari dulu sudah disebut demikian. Warung kopi Ake sendiri sudah ada di tempat itu selama empat generasi. Warung itu kini dijaga oleh Akiong (53), anak Ake (75), yang sekarang tinggal di Jakarta. Warung kopi pertama kali didirikan oleh kakek Ake. Akiong tidak tahu tahun berapa persisnya warung kopi ini berdiri.</p>
<p>Di Belitung secangkir kopi disajikan dengan cara yang khas. Bubuk kopi tidak dituang satu-satu ke masing-masing gelas melainkan diaduk dalam sebuah gelas besar. Dari gelas besar itu kopi dituangkan ke dalam gelas dengan saringan berbentuk seperti kaus kaki. Dengan cara ini ampas kopi tidak ikut dalam gelas yang disajikan kepada pelanggan.</p>
<p>Saya pernah minum kopi di beberapa kedai kopi di Jambi, Lhokseumawe, dan Medan. Dengan kadar kekentalan yang berbeda cita rasa kopinya sama. Di warung Ake, kopi yang disajikan tidak terlalu pekat, meski warnanya hitam. Selain panas, kopi di sana juga lazim disajikan dingin dengan es atau dicampur susu kental manis.</p>
<p>sumber:kompas.com</p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><a href="http://www.pasirpantai.com/search/belitong/" title="belitong">belitong</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/warung+kopi+ake/" title="warung kopi ake">warung kopi ake</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/kopi+belitong/" title="kopi belitong">kopi belitong</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/penghasil+kopi+dan+coklat+di+pulau+rote/" title="penghasil kopi dan coklat di pulau rote">penghasil kopi dan coklat di pulau rote</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/interaksi+sosial+dalam+masyarakat/" title="interaksi sosial dalam masyarakat">interaksi sosial dalam masyarakat</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/sudharmayudha/" title="sudharmayudha">sudharmayudha</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/tempat+parawisata+pulau+rote+besrta+asal+usulnya/" title="tempat parawisata pulau rote besrta asal-usulnya">tempat parawisata pulau rote besrta asal-usulnya</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/tempat+pariwisata+pulau+rote+beserta+asal+usulnya/" title="tempat pariwisata pulau rote beserta asal-usulnya">tempat pariwisata pulau rote beserta asal-usulnya</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/kopi+manggar/" title="kopi manggar">kopi manggar</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/warung+kopi+manggar/" title="warung kopi manggar">warung kopi manggar</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.086 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasirpantai.com/sumatera/belitong/ke-belitong-tak-lengkap-tanpa-kopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mentawai Si Cantik nan Eksotis</title>
		<link>http://www.pasirpantai.com/sumatera/mentawai/mentawai-si-cantik-nan-eksotis/</link>
		<comments>http://www.pasirpantai.com/sumatera/mentawai/mentawai-si-cantik-nan-eksotis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 16:46:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PasirPantai.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[eksotis]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[pantai mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[pulau]]></category>
		<category><![CDATA[tempat wisata di mentawai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasirpantai.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Sejumlah tempat tidur busa disimpan di uma atau rumah adat Mentawai di Butui, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Keberadaan barang buatan pabrik itu amat mencolok dibandingkan dengan isi uma lainnya, seperti tengkorak binatang dan peralatan memasak yang semuanya dibuat warga Mentawai.
&#8220;Tempat tidur itu untuk para turis. Mereka juga yang membelinya, juga barang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/mentawai-surfing.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-43" title="mentawai surfing" src="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/mentawai-surfing-150x150.jpg" alt="mentawai surfing" width="150" height="150" /></a>Sejumlah tempat tidur busa disimpan di uma atau rumah adat Mentawai di Butui, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Keberadaan barang buatan pabrik itu amat mencolok dibandingkan dengan isi uma lainnya, seperti tengkorak binatang dan peralatan memasak yang semuanya dibuat warga Mentawai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tempat tidur itu untuk para turis. Mereka juga yang membelinya, juga barang lain seperti tas,” kata Aman Jazali, sikerei yang menghuni rumah adat tersebut. Sikerei adalah pemimpin upacara adat.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Jazali, hampir setiap minggu ada saja turis asing—biasanya dari Amerika dan Eropa—yang menginap 1-2 malam di uma. Ada dua daya tarik di situ: mengalami sendiri kehidupan suku Mentawai yang eksotis serta menikmati aliran Sungai Butui nan jernih serta dikelilingi pasir dan bebatuan putih di depan uma.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="mentawai beach" src="http://farm3.static.flickr.com/2522/3866720326_76d2415ffc.jpg" alt="mentawai beach" width="500" height="374" /></p>
<p style="text-align: justify;">Eksotisme ala Butui tersebut masih ditambah indahnya perjalanan untuk mencapainya, yaitu naik pompong—perahu kayu dengan mesin tempel—selama sekitar 4 jam dari Muara Siberut, ibu kota Kecamatan Siberut Selatan, menuju Desa Madobag. Dari Madobag, berjalan kaki sekitar 1,5 jam melalui hutan untuk menuju uma.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara Muara Siberut dapat ditempuh dengan naik kapal motor selama 10-12 jam dari Padang, Sumatera Barat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Eksotisme Mentawai</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiran wisatawan asing ini membuat Jazali memperoleh pemasukan yang lumayan karena setiap rombongan biasa memberinya uang sebelum pergi. Selain itu, juga membuatnya mampu sedikit berbahasa Indonesia, Inggris, dan berhitung.</p>
<p style="text-align: justify;">”Saat menginap di sini, pemandu wisata dan turis asing itu sering mengajari saya dan juga keluarga,” kata Jazali yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Sementara ketiga anaknya sekarang belajar di sekolah hutan yang dikelola seorang biarawan karena sekolah formal berada jauh dari umanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kehadiran turis asing juga membuat sejumlah tempat di Mentawai ditumbuhi resor mewah, terutama di kawasan pantai yang memiliki ombak yang baik untuk selancar. Di resor-resor itu turis berduit menikmati eksotisme Mentawai yang terdiri dari 213 pulau sekaligus untuk berselancar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ombak di kepulauan Mentawai—oleh berbagai organisasi selancar—merupakan terbaik ketiga sejagat setelah Hawaii dan Tahiti.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="surf mentawai" src="http://farm4.static.flickr.com/3421/3866718206_d1d32c9de9.jpg" alt="Surf mentawai" width="471" height="314" /></p>
<p style="text-align: justify;">Di Mentawai, selancar biasanya dilakukan di Pulau Nyangnyang, Karang Majat, Masilok, Botik, dan Mainuk. Puncak kunjungan wisatawan ada di bulan Juli dan Agustus. Saat itu ketinggian ombak di Mentawai mencapai 7 meter.</p>
<p style="text-align: justify;">”Pulau yang cantik. Saya akan datang ke sini lagi,” kata Andrea, wisatawan dari Italia, tentang Mentawai yang dikunjunginya selama satu minggu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cagar biosfer</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Selain cantik, Mentawai juga berperan penting bagi konservasi. Sejak tahun 1981, Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Pulau Siberut di Mentawai sebagai salah satu cagar biosfer sehingga keberadaannya harus dilindungi dan dijauhkan dari eksploitasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keeksotisan Siberut ditambah adanya empat primata endemik Mentawai, yaitu simakobu atau monyet ekor babi (Simias concolor), bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii), joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), dan beruk mentawai (Macaca pagensis).</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk meneliti kekayaan primata Mentawai ini, Pusat Primata Universitas Gottingen, Jerman, bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor mendirikan Proyek Konservasi Siberut.</p>
<p style="text-align: justify;">Terabaikan</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, berbagai keunggulan itu seolah belum mampu membuat negara untuk melihat Mentawai secara lebih serius. Fasilitas umum seperti kesehatan dan pendidikan di daerah kaya itu umumnya masih terbengkalai. Aliran listrik dan jalan amat terbatas.</p>
<p style="text-align: justify;">”Dinas Pariwisata belum pernah datang ke sini. Jika ada wisatawan yang datang, ya sudah, kami tangani sendiri,” kata Sekretaris Desa Madobag Matheu Sabaggalek.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="mentawai" src="http://farm3.static.flickr.com/2453/3866077599_98e0ebbb30.jpg" alt="mentawai island" width="426" height="326" />Akibatnya lebih jauh, warga tidak hanya belum memiliki panduan yang jelas untuk mengelola daerahnya. Sejumlah aset di daerah itu juga mulai dikelola orang asing, seperti resor mewah di sejumlah lokasi selancar. ”Tanah resor itu masih milik warga Mentawai. Namun, karena tidak tahu dan tidak memiliki modal untuk mengelolanya, lalu disewakan ke orang asing,” kata Matheu.</p>
<p style="text-align: justify;">Matheu juga menceritakan, sudah ada turis Kanada yang menawarkan diri untuk memberikan modal menata air terjun Kulu Kubuk yang ada di daerahnya. ”Turis itu sudah menawarkan Rp 25 juta sebagai modal, dan pengelolaannya tetap diserahkan ke kami. Namun, warga yang punya tanah masih belum memperbolehkan,” kata Matheu.</p>
<p style="text-align: justify;">Negara perlu mengatur jangan sampai kekayaan alam ini jatuh ke tangan asing, antara lain membekali kemampuan masyarakat setempat mengelola kawasan mereka. Jika tidak, kekayaan alam Mentawai nan cantik ini sangat mungkin diserahkan pengelolaannya ke tangan asing. Bila demikian, apa arti makna kehadiran negara Indonesia di Mentawai?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Agnes Rita Sulistyawaty dan M Hernowo)<br />
Sumber: Kompas.com</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Foto foto:</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="pantai mentawai" src="http://farm4.static.flickr.com/3266/3866080733_6fc072ed6d.jpg" alt="pantai mentawai" width="500" height="333" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="pantai mentawai2" src="http://farm4.static.flickr.com/3434/3866085579_d954104232.jpg" alt="pantai mentawai" width="500" height="315" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="pulau mentawai" src="http://farm3.static.flickr.com/2547/3866863954_278d8c1bb0.jpg" alt="pulau mentawai" width="500" height="332" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="pantaimentawai" src="http://farm3.static.flickr.com/2524/3866866506_82e5bec43e.jpg" alt="pantaimentawai" width="500" height="333" /></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="pantai mentawai " src="http://farm3.static.flickr.com/2514/3866725224_a34c08e8e1.jpg" alt="pantai mentawai" width="500" height="338" /><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><a href="http://www.pasirpantai.com/search/pantai+mentawai/" title="pantai mentawai">pantai mentawai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/mentawai/" title="mentawai">mentawai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/tempat+wisata+di+mentawai/" title="tempat wisata di mentawai">tempat wisata di mentawai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/wisata+pulau+mentawai/" title="wisata pulau mentawai">wisata pulau mentawai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pantai+eksotis/" title="pantai eksotis">pantai eksotis</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/foto+pulau+mentawai/" title="foto pulau mentawai">foto pulau mentawai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/eksotis/" title="eksotis">eksotis</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/mentawai+beach/" title="mentawai beach">mentawai beach</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/rumah+adat+mentawai/" title="rumah adat mentawai">rumah adat mentawai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/objek+wisata+mentawai/" title="objek wisata mentawai">objek wisata mentawai</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.541 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasirpantai.com/sumatera/mentawai/mentawai-si-cantik-nan-eksotis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Cubadak &#8211; Surga di Sumatera</title>
		<link>http://www.pasirpantai.com/sumatera/pulau-cubadak/pulau-cubadak-surga-di-sumatera/</link>
		<comments>http://www.pasirpantai.com/sumatera/pulau-cubadak/pulau-cubadak-surga-di-sumatera/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 16:19:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PasirPantai.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pulau Cubadak]]></category>
		<category><![CDATA[cubadak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai cubadak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasirpantai.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[

Kawasan Cubadak pada mulanya adalah bekas kawah dengan luas sekitar 40 km persegi. Pulau ini tidak berpenduduk, kecuali hanya segelintir rumah nelayan sebagai tempat persinggahan saat kemalaman melaut, dan dipenuhi hutan lebat. Sejumlah satwa burung dan binatang liar seperti monyet, rusa, babi hidup di sini. Cubadak merupakan salah satu dari puluhan pulau kecil di lepas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/pulau-cubadak2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-37" style="border: 1px solid black;" title="pulau cubadak2" src="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/pulau-cubadak2-300x225.jpg" alt="pulau cubadak2" width="400" height="299" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kawasan Cubadak pada mulanya adalah bekas kawah dengan luas sekitar 40 km persegi. Pulau ini tidak berpenduduk, kecuali hanya segelintir rumah nelayan sebagai tempat persinggahan saat kemalaman melaut, dan dipenuhi hutan lebat. Sejumlah satwa burung dan binatang liar seperti monyet, rusa, babi hidup di sini. Cubadak merupakan salah satu dari puluhan pulau kecil di lepas pantai Sumatra Barat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya ada banyak pulau kecil yang berpotensi besar di kawasan ini. Diantaranya Mentawai, Sipagang, Sikuai, Pasumpahan, Sirandah, Penyu, dan lain-lain. Sayangnya baru Cubadak dan Mentawai yang sudah digarap dan dipromosikan dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Pulau Cubadak yang namanya telah mendunia dan menjadi ikon Kabupaten Pesisir Selatan ini memiliki luas wilayah 5.749 km persegi dan berada 0-1.000 meter di atas permukaan laut. Dengan posisi memanjang dari utara ke selatan di bagian barat Sumatra Barat, Pesisir yang memiliki 218 km panjang pantai memang memiliki potensi di bidang pariwisata.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft" style="border: 1px solid black;" src="http://farm3.static.flickr.com/2665/3865898953_6a4da898e9.jpg" alt="cubadak-island" width="295" height="150" />Kawasan Cubadak pada mulanya adalah bekas kawah dengan luas sekitar 40 km persegi. Pulau ini tidak berpenduduk, kecuali hanya segelintir rumah nelayan sebagai tempat persinggahan saat kemalaman melaut, dan dipenuhi hutan lebat. Sejumlah satwa burung dan binatang liar seperti monyet, rusa, babi hidup di sini.<br />
Panjang pantainya lebih 1,5 km dan lahan yang dikuasai pengelola Cubadak adalah sekitar tujuh hektar. Jika Mentawai adalah surga para peselancar, maka Cubadak adalah surga para penyelam karena dasar laut yang mengelilingi pulau ini ditumbuhi terumbu-terumbu karang yang indah dan ikan hias warna-warni.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara wisatawan Eropa lainnya, orang Jerman termasuk yang cukup antusias berkunjung ke pulau yang dijuluki Paradiso Village ini. Semua itu tak lepas dari promosi gencar dari sejumlah media di Jerman tujuh tahun yang lalu. Saat itu, satu tim TV Bavarian datang ke Cubadak untuk menggarap sebuah film dokumenter. Mereka melakukan pengambilan gambar dari berbagai sudut untuk menggambarkan keindahan Cubadak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah diputar di Jerman, film berdurasi 30 menit itu mendapat sambutan yang luas dan mampu menjadi magnit bagi orang Jerman untuk datang ke Cubadak. Ratusan telepon pun masuk ke stasiun TV tersebut. Mereka umumnya menanyakan bagaimana perjalanan ke Sumatra Barat, Indonesia. Sebab selama ini mereka hanya mengenal Bali atau Lombok.<br />
Selain itu, sejumlah media cetak saat itu juga menulis artikel panjang soal pulau &#8220;surga&#8221; ini. Majalah wanita Bild de Rau misalnya, memuat tulisan berjudul &#8220;Pulau Tersenyap di Dunia&#8221; dan koran Munchener Abendpost menulis &#8220;Bagaimana Mencapai Pulau Cubadak&#8221;.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="cubadak" src="http://farm3.static.flickr.com/2532/3865905333_28ba9f5753.jpg" alt="cubadak" width="500" height="334" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Menurut Tom Plummer, pengelola kapal pesiar berkebangsaan Australia yang sudah lama berdomisili di Padang, banyak sekali wisatawan asing yang awalnya tidak menyangka keistimewaan Pulau Cubadak. Bahkan tak jarang para wisatawan yang datang ke Sumatra Barat pada awalnya mengeluhkan perjalanan dari Bandara Tabing ke Carocok yang lumayan melelahkan karena jalannya berbelok-belok dan banyak tikungan. &#8220;Tapi begitu sampai di Pulau Cubadak, mereka akan kaget betapa indahnya pulau ini dan sama sekali tidak menyesal pernah ke sana,&#8221; ujar Tom.</p>
<p style="text-align: justify;">Tom yang kini juga mengelola sebuah toko olahraga di Jalan Hiligoo Padang bahkan berani mengatakan bahwa orang yang datang ke Cubadak pasti akan terkesan. Paduan olahraga air sambil menikmati kesenyapan pulau ini bakal menimbulkan kerinduan yang akan membuat pengunjung ingin kembali lagi ke sini. Nah untuk membuktikannya rasanya Anda mesti berkunjung ke sana sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Penulis : Budi Putra<br />
Sumber : Tempo News Room</p>
<p style="text-align: justify;">
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><a href="http://www.pasirpantai.com/search/cubadak/" title="cubadak">cubadak</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pulau+cubadak/" title="pulau cubadak">pulau cubadak</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pantai+cubadak/" title="pantai cubadak">pantai cubadak</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pulau+cubadak+padang/" title="pulau cubadak padang">pulau cubadak padang</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pantai+cubadak+padang/" title="pantai cubadak padang">pantai cubadak padang</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/tempat+menarik+disumatra/" title="tempat menarik disumatra">tempat menarik disumatra</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pengelola+pulau+cubadak/" title="Pengelola Pulau Cubadak">Pengelola Pulau Cubadak</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/cubadak+mentawai/" title="cubadak mentawai">cubadak mentawai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/website+pulau+cubadak/" title="website pulau cubadak">website pulau cubadak</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pulau+cubadak+sumatera+barat/" title="pulau cubadak sumatera barat">pulau cubadak sumatera barat</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 0.998 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasirpantai.com/sumatera/pulau-cubadak/pulau-cubadak-surga-di-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantai Belitong &#8211; Ingin Mati Tua Saja</title>
		<link>http://www.pasirpantai.com/sumatera/belitong/pantai-belitong/</link>
		<comments>http://www.pasirpantai.com/sumatera/belitong/pantai-belitong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 14:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PasirPantai.com</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belitong]]></category>
		<category><![CDATA[pantai belitong]]></category>
		<category><![CDATA[pantai sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasirpantai.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[

Rasanya saya ingin mati tua di sini saja.” Seorang pelancong asal Inggris, Rod Swift (61), mengucapkan kata-kata itu dengan mimik serius. Mata lelaki itu tak henti memandangi pesona alam pantai di Pulau Belitong.
Tanjung Kelayang adalah salah satu pantai di Pulau Belitong, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (sebutan resmi). Rod kerap berkunjung sejak beberapa tahun lalu dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://farm4.static.flickr.com/3013/3878102923_b7079b59be.jpg"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="belitong" src="http://farm4.static.flickr.com/3013/3878102923_b7079b59be.jpg" alt="belitong" width="500" height="334" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Rasanya saya ingin mati tua di sini saja.” Seorang pelancong asal Inggris, Rod Swift (61), mengucapkan kata-kata itu dengan mimik serius. Mata lelaki itu tak henti memandangi pesona alam pantai di Pulau Belitong.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanjung Kelayang adalah salah satu pantai di Pulau Belitong, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (sebutan resmi). Rod kerap berkunjung sejak beberapa tahun lalu dan selalu menemukan kedamaian. Begitu kepincut hatinya pada Belitong, sampai-sampai dia ingin menghabiskan masa tua di sana.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemandangan di pantai itu memang menggoda. Apalagi, suatu siang pada akhir Juli lalu itu cerah. Langit biru-bersih. Pinggiran Pantai Tanjung Kelayang dihampari pasir putih yang lembut. Air laut jernih. Warna air berlapis biru-hijau-toska—mirip sepenggal lukisan surealis karya seniman asal Spanyol, Salvador Dali.<br />
Di pojok kiri, bergerombol batu granit abu-abu yang membentuk gugusan unik. Agak ke tengah laut, terlihat pulau kecil yang ditandai batu granit besar serupa kepala burung. Masyarakat setempat menyebutnya Pulau Burung.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://farm3.static.flickr.com/2658/3878876578_e873b1197f.jpg"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="belitong" src="http://farm3.static.flickr.com/2658/3878876578_e873b1197f.jpg" alt="pantai belitong" width="500" height="332" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di Pantai Tanjung Tinggi, kita bakal menemukan pesona lebih menggetarkan. Di ujung kanan terdapat cekungan lebih kecil yang dibingkai bebatuan granit. Di cekungan yang disebut Pelabuhan Bilik inilah keindahan mengalir tiada habis.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagian kiri bilik itu dihiasi batu granit bertumpuk-tumpuk yang menjorok ke tengah laut. Bagian tengah berupa hamparan pasir putih bersih mirip tepung gula . Beberapa pohon, dengan cabang dan ranting meliuk-liuk, tumbuh sekenanya tetapi pas.<br />
Di sebelah kanan terdapat susunan batu granit lebih banyak lagi. Batu itu besar-besar, bulat, keabu-abuan, membentuk komposisi mengejutkan, tapi harmonis. Di sela-sela bebatuan, air laut keluar-masuk, diantar laju ombak yang pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">”Banyak orang bilang, pantai ini mirip gambaran surga. Entahlah, yang pasti inilah keindahan ciptaan Tuhan. Saya tak pernah bosan berkunjung ke sini setiap akhir pekan,” kata Erdwin, pemuda asal Tanjung Pandan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/belitong_beach.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-4" style="border: 1px solid black;" title="belitong_beach" src="http://www.pasirpantai.com/wp-content/uploads/2009/09/belitong_beach-300x175.jpg" alt="belitong_beach" width="300" height="175" /></a><strong>Anugerah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Burung, dan Tanjung Tinggi hanya sebagian dari pesona alam di Pulau Belitong. Masih banyak pantai lain yang juga menarik. Pantai-pantai itu berada dalam garis pesisir pulau menghadap Laut China Selatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejajar dengan dua pantai itu, kita bisa mengunjungi Pantai Bukit Berahu yang menghadap ke barat. Saat matahari terbenam, panoramanya cantik.Di tengah laut, berjarak sekitar 22 kilometer dari garis pantai, ada Pulau Lengkuas. Di pulau ini berdiri mercusuar yang dibangun Belanda tahun 1883. Jika mendaki sampai ke puncak menara, kita bisa melepaskan pandangan ke laut lepas, menatap jejeran pulau-pulau kecil lain, seperti Pulau Burung, Pulau Babi, dan Pulau Haji. Semuanya dipenuhi pepohonan dan susunan batu granit yang elok.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak sepopuler pantai di Belitong, beberapa pantai di Belitong Timur juga mempunyai daya tarik tersendiri. Sebut saja, antara lain, Pantai Burung Mandi, Pantai Nyiur Melambai, atau Pantai Punai. Semua pantai itu juga dianugerahi pesona alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat setempat punya cerita, konon nama Belitong, sebutan lama untuk Belitung, berasal dari kata ”Bali yang terpotong”. Namun, beberapa wisatawan malah berpendapat sebaliknya, pantai Belitong lebih menawan ketimbang Pantai Kuta atau Sanur di Bali.</p>
<p style="text-align: justify;">”Saya banyak mendatangi pantai-pantai di Nusantara. Bagi saya, pantai-pantai di Pulau Belitong ini yang terindah,” papar Frans Ahnan (56), lelaki asal Manado yang menetap di Jerman.<br />
Keindahan pasir, air laut, dan batu granit di pulau makin memikat karena dibungkus dalam suasana yang alami alias belum banyak diutak-atik tangan manusia. Jika berkesempatan menyelam atau melongok dengan snorkeling, kita bisa menikmati terumbu karang yang memiliki aneka bentuk dan warna. Itulah rumah bagi berbagai jenis ikan lokal.</p>
<p style="text-align: justify;">”Beruntung Belitong punya pantai seelok ini. Kalau di Eropa, pantai semacam ini pasti diserbu orang,” ujar Frans dengan mata berbinar.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="pantai belitong" src="http://farm3.static.flickr.com/2601/3878089177_131907e43a.jpg" alt="pantaibelitong" width="500" height="375" /></p>
<p style="text-align: justify;">Pulau Belitong sebenarnya mudah dijangkau dari Jakarta. Penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara HAS Hanadjoeddin di Tanjung Pandan, Belitong, hanya sekitar satu jam. Jalan dari pusat kota menuju pantai-pantai itu dekat dan telah teraspal rapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Tanjung Pandan, Pantai Bukit Berahu berjarak sekitar 18 kilometer, Pantai Tanjung Kelayang berjarak 25 kilometer, dan Pantai Tanjung Tinggi berjarak 30 kilometer. Sayangnya, hingga kini belum ada transportasi umum yang rutin mengantarkan penumpang langsung ke pantai-pantai itu. Wisatawan harus mengandalkan fasilitas travel dengan menyewa kendaraan dari Tanjung Pandan.</p>
<p style="text-align: justify;">Soal fasilitas penginapan, mungkin tidak terlalu merisaukan. Beberapa pantai, seperti di Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, dan Bukit Berahu, dilengkapi hotel atau cottage. Di Pantai Kelayang, misalnya, ada Kelayang Beach Cottages. ”Meski fasilitas tidak mewah, suasana di sini tenang, indah, dan alami,” kata Rudi Helwansa, manajer cottage itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketenangan, keindahan, dan kealamian itulah yang membuat banyak orang jatuh cinta pada pantai di Belitong. Suasana itu sungguh menenteramkan, terutama bagi orang-orang kota yang jenuh dengan rutinitas hidup. Wajar saja jika ada pelancong yang ingin mati tua di Belitong. <strong><em>(Ilham Khoiri)</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : <em><strong>Kompas Cetak</strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="belitung" src="http://farm4.static.flickr.com/3149/3878100435_57e42721b1.jpg" alt="belitung" width="500" height="375" /></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><img class="aligncenter" style="border: 1px solid black;" title="pulau belitung" src="http://farm3.static.flickr.com/2560/3878891636_4453305882.jpg" alt="pulau belitung" width="500" height="350" /></strong></em></p>
<p style="text-align: center;"><em><strong><br />
</strong></em></p>
<h4>Incoming search terms for the article:</h4><a href="http://www.pasirpantai.com/search/pantai+belitong/" title="pantai belitong">pantai belitong</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/belitong/" title="belitong">belitong</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pulau+bira+besar/" title="pulau bira besar">pulau bira besar</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/gambar+burung+pantai/" title="gambar burung pantai">gambar burung pantai</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pantai+tanjung+tinggi/" title="pantai tanjung tinggi">pantai tanjung tinggi</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/pulau+bira/" title="pulau bira">pulau bira</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/foto+pantai+tanjung+kelayang/" title="foto pantai tanjung kelayang">foto pantai tanjung kelayang</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/suasana+tanjung+kelayang/" title="suasana tanjung kelayang">suasana tanjung kelayang</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/gambar+cekungan+sulawesi/" title="gambar cekungan sulawesi">gambar cekungan sulawesi</a>, <a href="http://www.pasirpantai.com/search/penginapan+di+belitong/" title="penginapan di belitong">penginapan di belitong</a><!-- SEO SearchTerms Tagging 2 plugin took 1.355 ms -->]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasirpantai.com/sumatera/belitong/pantai-belitong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
